Kita seringkali mendengar fans sepakbola membangga-banggakan kesebelasan nasional negaranya atau bahkan pemain yang dari menurut negaranya. Ketika tim nasionalnya menang, mereka ikut bahagia dan bangga. Ketika tim nasionalnya kalah, mereka ikut bersedih. Seakan mereka juga ikut bertanding.

Tak hanya tim nasional, fans sepakbola terutama yang bukan dari dari negara superpower pada sepakbola umumnya ikut membangga-banggakan pemain yg asal dari negaranya meski tidak sedang membela tim nasional. Mohamed Salah contohnya, terus dipuja-puja masyarakat Mesir waktu dia sedang bermain buat Liverpool. Bahkan tak sedikit jua masyarakat Mesir yang menjadi fans dadakan klub dari Merseyside ini hanya karena Salah, pemain kebanggaan mereka, bermain buat klub tadi.

Membanggakan seorang pemain atas dasar kebangsaan mungkin sudah mainstream, tetapi sekarang yg sedang popular adalah ikut membanggakan pemain atas dasar kepercayaan. Menurut judi bola online terbesar, Semangat inilah yg diusung sang akun Instagram Muslim Footballers & Muslim Athletes.

Muslim Footballers (@muslimfoorballer) merupakan akun pada Instagram yang menyajikan kabar, fakta, foto, warta dan kutipan berdasarkan pesebakbola Muslim. Akun ini sering memberikan fakta terkait keislaman seseorang pemain sepakbola, misalnya foto seorang pemain sepakbola yang sedang melaksanakan Umroh, Haji atau sekedar salat berjamaah di Masjid. Nama pemain sepakbola tenar yg sering diklaim pada akun ini merupakan Salah dan N’golo Kante. Tak jarang jua pertanyaan seperti “Pemain A Islam bukan min?” timbul pada kolom komentar akun Instagram ini. Akun Instagram Muslim Athletes (@muslimathletes) tidak jauh tidak sama dengan akun Muslim Footballers. Bedanya ia menyajikan warta terkait atlet olahraga secara luas, tak hanya pemain sepakbola saja.

Akun Muslim Athletes diikuti sebesar 190 ribu pengikut ad interim akun Instagram Muslim Footballers diikuti 13 ribu pengikut. Kedua akun ini dan pengikutnya memiliki semangat yang serupa dengan semangat nasionalisme. Mereka ikut bangga waktu pemain beragama Islam berhasil meraih penghargaan. Mereka bahkan mendukung pemain beragama Islam walaupun pemain tadi tak sedang bermain buat klub atau kesebelasan yg didukung sang oleh fans.

Selama ini kita menganggap dukungan yang diberikan fans terhadap pemain sepakbola dari negaranya sebagai suatu hal yg lumrah. Sementara, tak sedikit yg beranggapan bahwa akun misalnya Muslim Athletes merupakan suatu hal yang absurd. Padahal jika kita tinjau ulang, mendukung atas dasar nasionalisme pula adalah konsep yg tidak kalah janggal. Kita tidak mengenal oleh pemain secara langsung, kita bahkan mungkin tidak pernah bertemu dengannya secara langsung. Mengapa kita harus merasa bangga ketika sang pemain meraih prestasi?

Yuval Noah Harari pada karyanya Sapiens: A Brief History of Mankind beropini bahwa nasionalisme hanyalah suatu mitos bersama atau “shared myth”. Ia hanya terdapat lantaran insan secara beramai-ramai mempercayai mitos tadi. Mitos ini ada seiring perkembangan peradaban. Dahulu, insan hayati dalam gerombolan -grup kecil sehingga ia mempunyai ikatan yg kuat secara langsung. Seiring membesarnya grup manusia sampai suatu titik di mana hampir tak mungkin mereka mengenal satu sama lain secara pribadi, dibutuhkan suatu metode organisasi sosial yang baru. Salah satunya adalah nasionalisme.

Kisah fiksi nasionalisme muncul sebagai metode organisasi sosial buat menyatukan cara pandang beragam insan. Menurut Benedict Anderson, nasionalisme merupakan suatu imagined community. Ia adalah konstruksi sosial buat menyatukan beragam insan pada suatu komunitas yang di mana beliau memiliki rasa kepemilikan atau “sense of belonging”. Sense of belonging terhadap suatu bangsa inilah yang membuat seseorang fans sepakbola mendukung dan turut membanggakan prestasi seseorang pemain yang berasal berdasarkan negara mereka.

Setiap insan mempunyai identitas yang interseksional. Identitas tadi mampu meliputi gender, ras, bangsa, kepercayaan , suku, strata sosial & lain-lain. Seseorang bisa saja berbangsa X, beragama Y dan bersuku Z. Sebagai contoh, saya merupakan seorang yang berwarganegara & berbangsa Indonesia, beragama Islam & adalah keturunan suku Melayu. Oleh karena itu, sebetulnya identitas saya tidak hanya terbatas menjadi seseorang yang berbangsa Indonesia.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, identitas primer seseorang selalu berganti. Di era kekhalifahan Islam contohnya, agama sebagai bukti diri primer seseorang. Bahkan pada era Perang Dunia II, gerombolan Nazi meletakkan identitas ras Arya menjadi identitas primer mereka. Meski merupakan warga negara Jerman, Yahudi dieksterminasi lantaran tak mempunyai ras Arya yg dipercaya superior. Keutamaan negara bangsa menjadi identitas seseorang adalah konstruksi yg merupakan warisan bangsa barat. Konsep negara-bangsa yang berdaulat asal dari Eropa dengan ditandatanganinya Perjanjian Westphalia.