Apa Perbedaan Startup dan UKM?

Di tengah gema ekonomi digital saat ini, banyak start-up baru telah muncul di berbagai bidang seperti fashion, perjalanan dan perjalanan, transportasi, dan sebagainya. Selain perkembangan media sosial, banyak anak muda juga mendirikan startup lokal yang berbasis digital. Tetapi konsep memulai bagi sebagian orang masih relatif tidak dikenal. Beberapa orang sudah mengenal istilah UKM atau UKM, sehingga konsep start-up dan SME sering disamakan.

Istilah startup itu sendiri diambil dari bahasa Inggris, yang berarti bahwa perusahaan atau organisasi bisnis baru memulai kegiatannya. Tetapi apakah itu cukup berarti untuk membedakan UKM dari startup? Meskipun UKM yang baru didirikan tentu saja baru memulai kegiatannya. Dari segi modal, mereka berdua memiliki modal yang relatif sedikit. tidak sedikit yang mencari modal dengan meminjam. Pada awal pendirian, manajemen bisnis juga sederhana, hanya dibantu oleh keluarga atau teman dekat. Jadi apa yang membedakan startup dan UKM dari satu sama lain? Yuk simak yang kami kutip dari Abbi Angkasa Perdana.

Tipe Perusahaan

Startup bergantung pada layanan, sedangkan UKM cenderung menghasilkan produk. Kami melihat layanan start-up, misalnya dalam bentuk aplikasi dan perangkat lunak, sedangkan produk-produk UKM adalah produk yang dapat langsung Anda nikmati, seperti pakaian, kerajinan tangan dan kuliner.

Sasara Utama dalam bisnis

Salah satu perbedaan paling penting antara keduanya adalah tujuan utama keduanya. Startup fokus pada potensi pertumbuhan yang cepat, sementara bisnis UKM didorong oleh motif utama untuk profitabilitas atau mendapatkan pendapatan dan menjadi menguntungkan.

Skala produksi

Start-up tidak tergantung pada bahan baku dan tidak menggunakan banyak bahan baku, sedangkan UKM terbatas dalam skala produksi karena mereka harus menggunakan bahan baku dan sumber daya manusia sebagai tenaga kerja.

Koneksi internet

Jika koneksi internet pada saat start-up adalah jantung perusahaan. Dengan kata lain, perusahaan pemula tidak dapat bekerja tanpa internet. Sementara itu, UKM hanya menggunakan koneksi internet sederhana, terutama untuk tujuan pemasaran.

GoJek Akui Kehabisan Uang gara-gara Tarif Murah

Perusahaan ride sharing Gojek kini sedang berdiskusi dengan calon investor baru. Mereka mengaku membutuhkan tambahan dana, seiring dengan besarnya subsidi yang dikeluarkan untuk membuat tarif tetap murah.

Saat ini, Gojek memiliki armada sekitar 200.000 orang pengemudi ojek. Perusahaan tersebut bersaing keras dengan Grab dan Uber demi menguasai pangsa pasar di Indonesia.

Kendati demikian, Gojek tak bisa terus-terusan “membakar” uang alias memberi subsidi agar tarif mereka bisa murah.

“Kalau terus begitu (memberi subsidi), akhirnya Anda akan kehabisan uang,” ujar pendiri sekaligus CEO Gojek Nadiem Makarim, Senin (2/5/2016).

Pria lulusan Harvard Business School itu menambahkan, salah satu solusi masalah tersebut adalah mencari dana tambahan dari para investor. Setelah mendapatkannya, dia akan memakai dana itu untuk mengembangkan lini bisnis.

Saat ini, menurut Nadiem, sudah ada sejumlah perusahaan modal ventura dan perusahaan investasi yang menaruh minat. Perusahaan-perusahaan tersebut tertarik pada Gojek karena ukuran dan potensi yang dimilikinya.

Nadiem tak mengungkap perusahaan mana saja yang kini sedang berdiskusi membicarakan investasi baru itu.

Sekadar diketahui, kehadiran Gojek dan layanan transportasi berbasis aplikasi lain memicu banyak kontroversi. Bahkan pada Maret lalu ribuan pengemudi taksi melakukan unjuk rasa dan meminta sebagian dari aplikasi ride sharing ditutup.

Namun sebesar-besarnya unjuk rasa tersebut tak akan membuat Nadiem sakit kepala. Setidaknya, fokus pemikiran pendiri Gojek itu bukan pada masalah tersebut.

“Buat saya, masalah dan tantangan terbesar saat ini adalah menghitung skala hal ini. Hal yang paling sulit adalah soal teknologi, sebab pemikiran mengenai teknologi-lah yang membuat saya jadi susah tidur,” pungkasnya.